Showing posts with label Ceritanya Cerita. Show all posts
Showing posts with label Ceritanya Cerita. Show all posts

Sunday, May 9, 2010

Si Jalal: Angka 25 dan Sirkuit Tamiya

04.50 WIB

Ba'da subuh, sengaja saya tidak lanjut tidur lagi. Sengaja berniat ke rumah si Jalal, pinjem sepeda lipat Dahon punya bapak, langsung menggoes ke rumah Jalal yang tak sampai 10 menit langsung tiba di halaman si empu rumah.

"Assalamualaikummmmmm... Jalaaaaallllll" saya salam kenceng-kenceng (inget masa kecil... tapi gak ditambah kata kata.. "main yuuukkkkkk"). :P
"Waalaikumsalam.." Nia (Nia Rahma, adik si Jalal -red) jawab. Wah si Nia lagi beres-beres teras rumah.

"Mana si Jalal, Nia ?"
"ada di samping mas Dam... biasa, siap2 berangkat" kata Nia sambil nunjuk-nunjuk pake kemoceng. "oke deh...." balas saya, sambil nyamperin si empu rumah.

"Hey Mr. Saputra Jalal...." sapa saya. "Apa kabar, sahabat ?" :) sengaja saya mau kagetin dia lagi ngelap-ngelap sepeda.

"Heyyy.... Dam..... Alhamdulilahh... glad to see you back, Mr. Restio Damar (He fluently speaks English, mungkin karena The Jakarta Post....:P) gimana lutut, bro ? sorry gak bisa jemput ke bandara " dipeluknya saya erat-erat.. (lucky u have a very best friend, surely...)

"Yahhh... mulai ada progress, makanya ini sepedaan...Lal, buat latian lututnya. hari ini gw temenin yaks loper nya" :)

"ohh... siappp..."
"ayo kita langsung ke tempat pak Haji Husin (yang punya agen koran,-red)" ajaknya. Berangkatlah kita ke tempat pak Haji Husin, Jalal pake MTB 2000 vs Dahon punya bapak saya...

ahh,, kelas 1 SMP kala itu, Jalal juga mungkin tak pernah membayangkan akan terus melewati rute rumah-agen Pak Haji Husin hingga saat ini,
saya iseng nanya dia dalam perjalanan bosen gak sih lewat sini.... terus tentang pelanggannya... kenapa gak jadi agen koran kayak pak Haji Husin sekalian...bla bla bla...

dia cuma bilang "nanti kita selesaikan ceritanya sambil sarapan bubur Mang Basir".
Okelah.

Gak lama juga di tempat pak Haji Husin,
agak kaget juga si pak Haji tiba2 ada saya ikutan jadi loper koran dadakan.. "Wah lal, si damenk loe jadiin asisten pribadi hari ini neh....." canda pak HAji. pak Haji cuma langsung kasih ke Jalal "Nih, 25 eksemplar nya.... dah disiapin kok Lal, tinggal berangkat aja, cek aja kalo kurang..."

"wah, makasih Pak Haji.... bukan asisten kok pak Haji, Damdam mah mau ikutan olahraga aja...." (dia selalu membela saya, kawan... you won't find person like him..seriously...) :)





05:10
yapp.... perjalanan loper koran pun dimulai.... 25 eksemplar sudah siap, cuaca fajar hari itu sangat bagus, perfecttt.... pengalaman yang mengasikkan menjadi loper koran dadakan plus mendengar obrolan Jalal dengan pelanggannya.

pelanggan pertama si koh Acun (Juragan Toko Bangunan,-red),
Jalal bergurau dia menjalankan hadist nabi "bergurulah ke negeri China" maka dia selalu memulai dari koh Acun untuk memulai rute loper korannya.. ada ada saja kau Jalaalll... haha.

Koh Acun lagi senam taichi pagi waktu kita datang, dia berhenti senam tau kita datang...

"haaa, Jalal... lu olang lopel kolan andalan oe haaa...pagi pagi buta gini dah nongol". Koh Acun Sumringah.
"Iya donk koh.. nih Harian Indonesia (Koran berbahasa China,-red)nya" Jalal menyodorkan koran berbahasa unik itu.
"eh, gimana itu loe olang punya genteng ? masih bocor gak ? kalo iya, loe olang tinggal ambil ke toko aja ya.. cingcay Lal..."
"alhamdulilah udah gak bocor lagi koh...."
oborlannya seru amat sih Lal....
" terima kasih yah koh Acun... pamit koh.."pamit Jalal akhirnyaaaa.

lanjut ke pelanggan kedua, ketiga, keempat, hingga habis sudah 25 eksemplar hari ini...huahhh, gak semudah yang saya kira... capekkk...

...


07:15

obrolan sambil sarapan bubur mang Basir,

D:"Lal, loe belum jawab pertanyaan gw tadi.. bosan gak sih loper koran terus? kok cuma 25 eksemplar sih lal? kan bisa jadi agen juga kayak pak Haji Husin?'

J: "Dam... 25 pelanggan saya itu sangat berharga buat saya.. 25 itu kan hanya angka, saya bisa membuatnya jadi lebih dari itu.. bisa aja 25 itu bukan hanya eksemplar, tapi menjadi 25 keluarga... :) Lagian Dam, saya butuh 5 menit untuk tiap pelanggan, gak mau hanya antar koran saja... gw mau lebih mengenal pelanggannya, begitu juga mereka harus tau siapa yang ngantar korannya... :)"

J: "contohnya kayak koh Acun tadi.... siapa yang sangka dia mau bantu saya buat kasih genteng gratis waktu ada angin kenceng, genteng2 rumah berterbangan... and i got it for free... :)
"5 menit x 25= 125 menit kan Dam.... kita start tadi jam 5 subuh, akhirnya jam 7 an kita selesai... kita gak juga ngecewain pelanggan kan Dam... masa' koran pagi jam 9 datangnya... :P"

J: "tentang bosan atau gak... sampe saat ini masih belum bosan kok Dam... masih bisa dinikmati kerjaan kayak gini, waktunya, setelah loper kan juga masih ada kegiatan lain bisa gw kerjain... dan itu bisa datang juga dari pelanggan juga.. bisa juga punya banyak waktu buat emak sama Nia yang lagi sibuk kuliah.... di koran ini saya bisa banyak baca2 juga kan Dam, so i am the special paper boy... ;p hehe. Saya lebih tau berita lebih awal daripada pelanggan saya, saya bisa bercerita tentang yang mereka suka. Jangan khawatir tentang penghasilan the special paper boy kayak gw ini, lagian kalo ada apa2, saya pasti kasih tau kamu Dam" :) (huff... syukurlah dia baik2 saja sekeluarga selama ini...)

J: "Dan yang terpenting ini, kalau saya menjadi agen juga sama kayak pak Haji Husin, malah tidak efektif Dam... kualitas hubungan saya dengan pelanggan saya akan turun drastis.. lagian, apa iya aku harus merebut ladang pak Haji Husin yang dah dia rintis belasan tahun atas nama berkompetisi ? :) Menurut gw yah Dam, berusaha (wiraswasta,-red) bukan tentang untung rugi saja... tapi lebih menggembleng pribadi biar bisa jadi lebih mandiri lagi dengan positif tentunya."

J: "saya dengan halus menolak tambahan pelanggan, 25 sudah cukup untuk saya... kalaupun ada lebih, saya akan berikan ke loper koran lain juga kok... saya tidak merasa merugi ketika berbagi Dam..."

J:" kita kadang salah persepsi tentang berkompetisi, memang sih ada kompetisi yang keras saling sikut sana sini, kotor... kamu ingat Dam waktu kecil kita sering main Tamiya (mobil remote control dinamo,-red) ada sirkuitnya..."

J:"Kita berkompetisi di atas jalur masing2, walaupun sama-sama mobil Tamiya, gak harus tabrak-tabrakan... kita hanya fokus di jalur kita sendiri, bukan POWER yang utama, tapi ENDURANCE. Bisakah kita menjadi mobil tamiya yang paling akhir berlari ?"

D: (hanya bisa tersenyum...again.) :)




Selesai sudah hari ini... setelah membayar 10 ribu rupiah bubur mang Basir, saya pamit sama Jalal, o iya saya kasih dia oleh2 baju khas Pakistan dan harus kasih tau dia saya harus kembali ke Balikpapan lagi.

J:" Terima kasih Dam, kita akan terus berlari di sirkuit tamiya kita... tenang saja." :) he hugged me wamrly.
D: "Sama2 Jalal....kalo ada apa2 let me know, please. Assalamualaikum..."



April 10th, 2010
Jakarta


Tuesday, February 23, 2010

Si Jalal: Dongeng untuk Sahabat

Satu malam, sebelum saya berangkat ke Pakistan lagi untuk menunaikan tugas (haha....tunai atau cicil sama saja).. sengaja saya pengen telpon Jalal.. gangguin dia nonton bola... pokoknya harus ngobrol sama saya.. dia pasti tahu kalo telpon jam segini untuk apa, akh Jalal... hutang banyak aku padamu kawan....

Jalal (J): "Assalamlekom... oi oi Dam. gimana kaki loe ? besok jam berapa berangkat ke Islamabad? lagi rame tuh tentang Hamas..."
langsung ditanya banyak banget,.... belum juga jawab salam...

Damenk (D): "walaikumsalam Jal... alhamdulilah masih belum bisa ditekuk, masih ngilu.. dah dipijet lagi kok ke Haji Naim, insya Allah cepet sembuh...besok jam 10 malam ke bandara..."

(J): "Amiennn dam.... semangat donk ke sana, kan mau janji nabung di tahun macan...hehehe"

(D): "Itu dia Jal... agak2 nervous euy... gak pede kali ini"

(J): "haha...dah ribuan kali kata2 itu gw denger dam dari loe... Merendah untuk meninggi... "
dan kali ini alasannya adalah... kaki..."

(D): "......" tersenyum, you know me my brother...hayoo, berkhotbahlah untukku...:)

(J): "Dam..almarhum Gus Dur ajah ngurusin negara, masa loe ngalah ? "
atau... loe berpikir dari arah sebaliknya tapi in negative side...???

(D): "..." yup.. you got my point

(J): "Pasti kau berpikir, jika kalau kali ini kau gagal... what happen to me next, rite ?"

(D): "..." transisi dari kata loe menjadi kau... it becomes serious guys...:)

(J): "Dam... Apakah penilaian negatif orang lain, akan membuat mu kecil hati ?
taruhlah sekarang kau patah kaki, dipecat, nganggur....dicibir orang2.... lalu ?
atau ini adalah rencana indah untukmu kawan, hadiah Allah swt..."

"Jika kau benar2 terpuruk.. lihatlah siapa yang tetap berdiri di sampingmu.... sejak saat itu, dengarkan mereka saja..."

(D): "..." tersenyum, ready to big fight start from tomorrow...

(J): "Dam.... oi dam... yaaahhh malah diem aje..."

(D): bikin suara pura2 tidur "zzzzzzzz....."

(J): "Kampret, gw tau loe gak tidur... ya sudah yaks... Liga Champions mau mulai neh... best for you bro, jangan lupa ngaji Quran yee... uplod poto di pesbuk lagi yang banyak, biar gw bisa tau kayak apa lagi di sana.... assalamualaikum, Dam"

klik.... tuut tuut tuut...

Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, sahabat sejatiku. :)


Jakarta, Feb 23rd 2010




Thursday, February 4, 2010

Si Jalal: 3 dalam 1

Tidak sulit mencapai daerah Bunderan HI (Hotel Indonesia) dari rumah saya, cukup lah berjalan gunakan kakimu 10 menit lamanya. Yang kamu dapati sekarang adalah mall Grand Indonesia, Plaza Indonesia dengan EX-nya, Kempinsky dan Ascott Apartmennya, dan segala semrawutnya.

Seingat saya, waktu masih 1 SMP. Kempinsky itu masih kebun kosong, EX juga masih tanah sengketa. Dan Plaza Indonesia masih dikuasai SOGO.

Tapi bukan itu yang saya mau ceritakan...

karena akhir2 ini saya harus melalui tempat kenangan indah ini, jalur-jalur yang masih saya kenal, plang tulisan "kebon kacang" nya, pedagang kaki lima nya, kali nya yang keruh, juga pangkalan ojek legendaris ....

Satu sore saya ajak Jalal untuk jalan2 ke kawasan bunderan HI dan kawasan plaza indonesia yang sudah beda sekarang. Kami duduk di dekat bunderan HI, sambil liat air mancurnya, lampu sore nya, ditemani pisang goreng hangat dan teh manis dalam botol.

Damenk (D): "lal, loe tau kenapa gw ajak ke sini ?" akhirnya percakapan dimulai...
Jalal (J): "haha... tau lah Dam (dia selalu memanggilku Dam, bukan mar...or damenk :) )."

....

Jika kau ingin tahu kawan, tentang salah satu masa indah itu buat saya... ya masa 1 smp.
Ini semua karena Jalal.....ya benar, karena dia. Semenjak putus sekolah saat kami 1 smp, dia mati2an jadi tulang punggung keluarga untuk membantu menghidupi adiknya 1 dan ibunya 1.
hingga satu sore Jalal mampir ke rumah saya, dia berpakaian rapi sekali, dan mengajak saya ke bunderan HI

"Ayolah, ikut saja... pasti seru. Pakai pakaian yang rapi yah, Dam." Saya nurut saja ikut ajakan sahabat hebat saya ini.

"Nah.... di sini aja nih, Dam !!!" seru si Jalal ketika kita sudah berdiri di pinggir jalan arah keluar bunderan HI. Saya lihat yang berdiri bukan kami saja, ada anak2 seusia kami juga ibu2, dan para pemuda. Sambil melambai2kan jempol ke setiap mobil pribadi yang lewat, sekitar 15 menit menunggu, akhirnya ada mobil menepi menghampiri kami, Toyota Crown. Bapak2, umurnya kira2 40an lah. "Hayo kalian berdua, mari naik sini" ajaknya ramah. Dengan sigap si Jalal masuk dan duduk di depan, saya nyusul di belakang. "Wow.... mewah sekali mobilnya, om". Si bapak yang dipanggil om sama si Jalal hanya tersenyum.

Mobil melaju melewati bunderan HI, menuju ke Sudirman, saya membaca plang hijau besar bertuliskan:

PUKUL 07.00 - 10.00 dan 16.00 - 19.00
ANDA MENUJU KAWASAN
MOBIL BERPENUMPANG 3 ORANG ATAU LEBIH


kemudian ada pak polisi mengetuk kaca pintu mobil si om, kaca dibuka... pak polisi melongok-longok ke dalam. "habis jemput si kecil les bahasa inggris" tiba2 si om bicara ke pak polisi. Pak polisi hanya ngangguk saja, dan mengizinkan mobil melaju. Mobil semakin menjauh dari kumpulan polisi, 500 meter kemudian mobil menepi. Si om, mengeluarkan dompetnya dan memberi Jalal uang 5000 rupiah (wow, jumlah yang cukup besar kala itu). Setelah mengucapkan terima kasih, saya dan jalal keluar dari mobil, dan bergegas kembali menuju rumah.


"hehehe....seru kan Dam?" tanya Jalal pada saya... Saya masih terkesima atas kejadian yang saya alami.

"Itu tadi kita jadi joki three in one, Dam. Plang hijau yang kamu baca tadi itu aturan waktunya, ingat Dam...1 mobil 3 penumpang. Tujuannya sih katanya mengurangi kemacetan di Jakarta."

"mengapa kita rapi ? biar kita beda sama yang lain Dam... dan tidak dicurigai sebagai joki sewaktu pemeriksaan tadi. Lagipula kan kita lebih bagus dari saingan kita sesama joki, hehehe"


....

Adzan magrib, mengakhiri nostalgia saya bareng Jalal. sahabat tiada pernah sedih ini.
akh Jalal, kalau kau ingin punya mobil mewah, kau tinggal acungkan jarimu......



Feb. 04 2010
17:55

*populasi joki three in one makin banyak saja..."


Saturday, January 9, 2010

Si Jalal: Loper Koran

05.00 ba'da subuh. Dengan memulai memencet tombol hijau, maka itu munculah secara ajaib gambar pada layar kaca orang orang bersafari berdasi tersenyum haha hihi. Berita tv pagi ini.... "Mobil seharga 1.3 Milyiar untuk para Pejabat Republik ini... untuk menunjang keperluan dinas bla, bla, bla"
Si Jalal dengan masygul mengikuti itu berita sampai habis, sampai gak sadar sarung yang baru dipake itu buat sembahyang subuh sudah jadi kucel tidak berbentuk diremas-remas akibatnya.
Tiba-tiba satu teriakan plus diiringi memencet tombol merah "MAMPUSLAH KAU PARA KORUPTOR..." Gambar orang lagi melambaikan tangan dari dalam mobil telah menjadi hitam gelap, hilang ditelan bumi. Ajaib. Jalal telah menjadi pembunuh, pembunuh yang mulia. Puaslah Jalal saat itu juga.

"JALAAAAAALLLLL...." teriakan cempreng perempuan membuat Jalal tersadar dari kepuasannya.
"IYAAA MAAAKKK..." Jalal keluar rumah menghampiri sumber suara. Didapati emak kandungnya sedang menyapu halaman. Oh rupanya sudah waktunya Jalal untuk minggat dari rumah, setelah cium tangan ke emak. Melakoni lakon sebagai loper koran. Melayani 40 pelanggan setianya dengan Federal MTB 2000. Dengan gesit menuju ke agen koran Bang Bonar, beradu cepat dengan matahari.

Dia lah si Jalal, Jalal Saputra kalau kau lihat KTPnya, inilah sahabat saya yang masih sempat sedikit saya cerita tentang dia. Sedikit saja, jujur saja saya lupa banyaknya seperti apa... Sangat banyak sekali, berkali-kali, bukan sekali-sekali. Punya Ibu satu, adik satu, Bapak satu (alm. ketika dia kelas 1 smp), sejak saat itu yang membuatnya putus sekolah karena janji Wajib Belajar hanya lah janji, dan dilantiknya dia menjadi loper koran bukan juga karena kebetulan, ingin dia menjadi pembalap sepeda, tapi tetap senang walaupun begitu, karena dia adu balap juga sesama loper koran). Rumahnya di daerah Kebon Kacang. Itupun warisan bapaknya.

Akh, Jalal.... mulai sekarang saya akan mencoba mengingat semua kenangan saya tentang kamu... biar saya tulis di blog ini, biar semua orang pada tau tentang kamu, biar kamu bisa dikasi sepeda minimal POLYGON XSTRADA seperti teman saya di kantor tiap pagi.

Welcome Back Jalal.....


.....................................



P.S: butuh masukan buat nulis beginian. :)